Branding, Pandangan Pertama Pelanggan

Anda ingin  memulai usaha? Analisis pasar sudah dilakukan. Produk sudah ditentukan.  Modal sudah siap. Tempat dengan  lokasi strategis sudah siap.  Karyawan sudah siap. Tinggal ekskusi pelaksanaan.

             Namun, sebelum Anda mengeksekusi, mohon waktu. Ada satu hal yang penting untuk dilakukan supaya sejak awal usaha yang Anda lakukan bisa berjalan sesuai harapan karena  on the track.

Untuk itu izinkan saya menyampaikan sebuah ilustrasi berdasarkan pengalaman nyata.                

Seorang pelaku usaha toko  sempat merasa  bingung.  Di awal memulai  usaha, dia membuka usaha barang-barang kecantikan. Toko ini menyediakan aneka parfum berbagai merk dengan harga yang bervariasi dari harga murah hingga yang mahal.

Aneka bedak pun disediakan. Sama. Berbagai merk dan harga. Dan bedak untuk berbagai jenis kulit. Aneka handbody dan sunscren berbagai merk dan harga. Sabun mandi produk Jepang dan China disediakan pula. Aneka pensil alis, lipstick, dan mascara juga tidak ketinggalan.

Untuk melengapi tokonya atas masukan dari konsumen,akhirnya menyediakan juga aneka alat tulis kantor ( ATK). Buku kwitansi hingga meterai. Amplop besar dan kecil. Semua tersedia.

Barang pamungkas yang disediakan juga, adalah barang konsumsi yaitu aneka minuman, snack, dan berlanjut rokok karena konsumen datang menanyakan ketersediaan rokok. Maka, disediakan juga aneka merk rokok.

Spanduk tergantung di dinding tembok toko, berbunyi Menyediakan alat-alat kecantikan, aneka minuman, dan snack atau makanan ringan. Serta alat tulis.

Sembari lewat, yang penting ada untung, toko itu melayani juga pembeliaan token, pulsa dan kuota. Sehingga, terasa toko itu menyediakan aneka barang serba ada. Teringat seperti istilah yang populer di Indonesia  toko Palugada. Apa Lu Perlu, Gua Ada. Wow…, keren!

Bersamaan toko ini dibuka, di sebelah juga dibuka toko grosir yang menyediakan barang konsumsi  lengkap dengan harga yang selisih kalau dibandingkan dengan  toko ritel.

Di awal masa toko itu berjalan, seakan berbagai rezeki. Yang tidak ada di grosir ada di toko sebelahnya. Seringkali seperti berbagi rezeki. Saling mengarahkan pembeli. Sehingga, seiring waktu, terasa denyut omset lumayan. Barang konsumsi menjadi andalan utama usaha toko. Sedangkan alat kecantikan dan ATK seiring waktu menjadi pilihan kedua.

Toko berjalan sekitar tiga bulan, muncullah toko baru yang menempati area sebelah. Menjadi berjajar. Toko tersebut, pyur menyediakan barang konsumsi yang serba ada.Statusnya toko retail sehingga harga barang-barang selisih ( lebih mahal)  dibanding dengan toko grosir sebelah.

Pelan  tapi pasti, toko retail sebelah menjadi pilihan konsumen. Sedikit demi sedikit, konsumen yang semula belanja di toko kecantikan berpindah ke toko sebelah terutama yag berkait dengan barang konsumsi. Kasihan memang. Barang-barang konsumsi menjadi tidak laku dan tereleminasi karena expired. Pelanggan-pelanggan yang biasa setia, tampak berpindah satu per satu. Bahkan dalam satu minggu, omzetnya bisa nol. Tidk ada pemasukan.

            Analisis sepintas, toko ketiga memiliki kelebihan dalam penjualan. Salah satu yang tampak, padatnya dan lengkapnya  barang-barang penjualan. Tetapi hal ini masih bisa dipatahkan dengan kenyataan barang-barang yang dijual di toko yang pertama. Faktanya sama, bahkan sebagai toko grosir jauh lebih lengkap dan harga lebih rendah.

            Lantas, apa yang sesungguhnya  terjadi…?

            Melihat kasus di atas jadi teringat pendapat Arli Kurnia dalam bukunya, Profit Maker. Menurut Arli, branding mempengaruhi pandangan pertama para pembeli .

            Lebih lanjut menurut Arli,  ada tiga macam branding yang dapat dipilih. (1) Personal Branding, (2) Company Branding, dan (3) Produck Branding.  

            Personal branding adalah branding yang dibangun oleh pribadi pengusaha. Contoh  seorang public figure membuka usaha toko kue. Ramainya pembeli bisa jadi bukan karena rasa atau kualitas produknya, melainkan karena figure pemilik tokonya.

Mengapa Anda senang berbelanja di satu toko tertentu, padahal harganya  selisih lebih mahal. Bisa jadi karena pelayanan pemilik toko atau karyawannya menyenangkan. Ramah, empati, peduli dan membantu memberi wawasan.

Cerita sukses personal branding lainnya ialah Joe Girard seorang saleman kelas dunia. Skill salesmannya sampai saat ini belum ada yang mengalahkan. Bayangkan dalam 12 hari mampu menjual mobul Chevrolet selama 12 tahun.

Apa rahasianya ? Dia memiliki personal branding yang keren. Dia memiliki catatan pribadi customer-nya. Tiap  hari ia mengirimkan kartu pos ucapan ulang tahun. Dia juga punya bengkel pribadi yang memberi pelayanan gratis kepada customer yang sedang mengantri di bengkel resmi. Menjalin komunikasi dengan dasar perhatian total kepada konsumen, itulah rahasianya. Itulah branding personal.

Company Branding adalah branding yang menjelaskan perusahaan bidang apa yang dilakukan pengusaha. Jika, branding perusahaan adalah perusahaan yang menjual barang-barang konsumsi maka perusahaan tersebut akan menampakan diri sebagai perusahaan yang menyediakan barang-barang konsumsi. Sebutlah perusahaan yang menjual barang-barang sembako. Maka, konsekuensinya barang yang disediakan dan dijual adalah barang-barang yang terkait sembako.

            Produck Branding adalah branding yang menempatkan pada produk yang dijual yang memiliki daya pembeda dengan produk lain yang sejenis atau produk yang dijual memiliki keungggulan.

            Di satu lokasi ada banyak orang berjualan bakso dengan kekhasan bakso Solo, bakso Malang, Bakso Wonogiri, bakso Yogyakarta, dan bakso lainnya. Mengapa banyak memilih bakso Malang. Bisa jadi ada kekhasan yang menarik perhatian. Misalnya, kuahnya bening, daging baksonya banyak , dan topingnya bakwan goreng. Artinya produk bakso malang memiliki kelebihan dalam hal produk.

            Keunggulan produk bisa juga karena diberi nilai tambah. Misanya makanan ringan jasuke. Itu sebenarnya hanya jagung rebus. Akan tetapi kalau hanya dijual sebagai jagung rebus itu hal yang biasa. Tidak ada daya Tarik lebih jika dibandingkan dengan menambahkan susu dan keju. Setelah jadi jasuke ada perbedaan jauh dalam hal rasa dan penampilan. Itulah siasat branding produk.

            Kembali ke pembahasan di awal. Itulah yang ingin saya ingtakan untuk Anda yang akan memulai usaha. Akan tetapi di antara tiga branding itu menurut hemat penulis, company branding adalah pandangan awal bagi konsumen. Artinya, konsumen paham toko yang ada di hadapannya dengan melihat branding yang dilakukan oleh penguasaha.   

            Dalam kasus, toko kosmetik yang menyediakan barang konsumsi, tidak heran kalau konsumen angkat kaki  pergi ke toko konsumsi  karena pasti di sana tersedia semua yang diperlukan. Karena branding ini  membawa konsekuensi pada penyediaan  barang dan penataan sehingga konsumen memastikan datang ke toko Anda.

            Berbeda dengan melihat toko kosmetik  . Sekalipun ada barang konsumsi pasti imaje yang terbentuk adalah barang kecantikan dulu yang mungkin tidak akan pernah dikunjunginya, terutama kaum pria.

            Jadi, untuk menggiring konsumen ke tempat kita, buatlah pandangan di awal yang memastikan bahwa barang konsumsi yang dibutuhkan tampak tersedia lengkap di toko kita.

            Setelah itu lanjut dengan mengembangkan branding personal dan branding produk untuk mempertahankan kelanjutan pelanggan dan untuk melipatgangandakan pelanggan.

            Untuk lebih mendalami baik dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan dan praktik-praktik pengembangan siasat mem-branding, Coah Barlian T. Winarta, seorang ahli marketing yang telah membantu ratusan pengusaha hingga berhasil dalam berbisnis, siap membantu Anda. Melalui coching bussines atau bussines training. Hubungi Nomor WhatsApp  0823-2018-9998.

Home

About Us

Services

Blog

Contact